Tuesday, September 1, 2020

Sistem Pengapian Full Transistor ( Elektronik)

Apasih Sistem Pengapian Full Transistor ?

1. Definisi Sistem Pengapian Sistem pengapian adalah suatu system yang ada dalam setiap motor bensin, digunakan untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang telah dikompresikan oleh torak di dalam silinder (Sumber: Skripsi, Oleh Sularto, Tahun 2004, Hal.26).

 2.Definisi Sistem Pengapian Elektronik Sistem pengapian EFI atau elektronik adalah system pengapian yang memanfaatkan komponen elektronik seperti transistor, resistor, dll untuk memutus dan mengalirkan arus primer koil. Jika pada sistem pengapian konvensional pemutusan arus primer koil dilakukan secara mekanis dengan membuka dan menutup kontak pemutus, maka pada sistem pengapian elektronik pemutusan arus primer koil dilakukan secara elektronis. 

3. Gambar Blok Diagram Sistem Pengapian Elektronik TCI Tipe Induktif
4. Komponen Sistem Pengapian EFI 

1) Battery
    Baterai atau aki, atau bisa juga accu adalah sebuah sel listrik dimana di dalamnyaberlangsung proses elektrokimia yang reversibel (dapat berbalikan) dengan efisiensinya yang tinggi.Yang dimaksud dengan proses elektrokimia reversibel, adalah di dalam baterai dapat berlangsungproses pengubahan kimia menjadi tenaga listrik (proses pengosongan), dan sebaliknya dari tenagalistrik menjadi tenaga kimia, pengisian kembali dengan cara regenerasi dari elektroda-elektroda yangdipakai, yaitu dengan melewatkan arus listrik dalam arah (polaritas) yangberlawanan di dalam sel. Atauaki pada mobil berfungsi untuk menyimpan energi listrik dalam bentuk energi kimia, yang akandigunakan untuk mensuplai (menyediakan) listik ke sistem starter, sistem pengapian, lampu-lampu dankomponen komponen kelistrikan lainnya. Komponen pada aki atau battery:
 • Pelat Pelat dari aki harus sedemikian rupa sehingga aki dapat memenuhi persyaratan listrik yang ditentukan, terpasang kuat untuk menahan getaran sehingga tidak menimbulkan keretakan atau perubahan bentuk. 
• Penyekat Penyekat harus terbuat dari bahan yang tahan asam dan berpori-pori sehingga harus dapat memenuhi persyaratan listrik tertentu.
• Kutub Kutub yang terdiri dari batang-batang harus terbuat dari paduan timah dan antimon. 
• Wadah dan tutup Wadah dan tutup harus terbuat dari bahan yang cukup kuat dan tahan asam sehingga tahan terhadap penanganan biasa tanpa menimbulkan retak dan pecah.
 •Sumbat Sumbat terdiri dari tiga ukuran dengan diameter ulir 18 m, 22 mm, 27 mm dan 30 mm dengan picth 2,5 mm.
 • Penghubung antar sel Penghubung antar sel terbuat dari paduan timbal dengan ukuran penampang cukup besar untuk mengalirkan arus pelepasan yang tinggi.
 • Bahan perapat (seal) Bahan perapat harus terbuat dari bahan yang tahan asam dan tetap rapat selama penggunaan.
 • Elektrolit Elektrolit yang digunakan harus memenuhi tingkat kemiringan tertentu dengan berat jenis 1,260 ± 0,010 pada 20 °C atau 1,280 ± 0,010 pada 20 °C.

 2) Kunci kontak Switch atau kunci kontak dalam sistem pengapian berguna untuk menghubungkan danmemutuskan arus dari baterai ke terminal positif ignition coil. Kunci kontak inimempunyai empat terminal yaitu terminal B yang dihubungkan dengan baterai,terminal IG yang dihubungkan dengan sistem pengapian, terminal ST yangdihubungkan denagn sistem starter, dan terminal ACC dihubungkan denganaccesoris dan komponen lain pada kendaraan yang memerlukan arus listrik. Padaposisi ON, arus dari baterai dialirkan ke semua sistem, sedangkan pada posisiOFF arus akan diputus dari semua sistem termasuk sistem pengapian.

 3) Ignition Coil Ignition coil adalah komponen dari sistem pengapian yang berfungsi untuk menaikkan tegangan listrik dari aki yaitu tegangan 12 volt menjadi tegangan tinggi 10 KVolt atau lebih. Di dalam koil terdapat dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Kumparan primer koil menghubungkan terminal positif dan terminal negatif koil. Kumparan sekunder menghubungkan terminal positif dengan terminal sekunder atau terminal tegangan tinggi. Secara konstruksi ignition coil terdiri atas : 
a. Terminal positif : Bagian daricoil yang dihubungkan dengan kabel yang mendapat arus listrik positif , untuk rangkaian pada mobil terminal positif dihubungkan dengan kabel ke sekering.
b. Terminal negatif : Bagian dari coil yang di hubungkan dengan kabel menuju ke distributor ( untuk sistem pengapian pada mobil ). 
c. Kumparan sekunder : bagian dari coil yang berupa lilitan kabel yang jumlah lilitannya lebih banyak daripada kumparan primer. 
d. Kumparan primer adalah : bagian dari coil yang berupa lilitan kabel yang jumlah lilitannya lebih sedikit daripada kumparan sekunder. 
e. Sekunder terminal adalah bagian dari coil yang dihubungkan dengan kabel tegangan tinggi ke distributor ( untukmobil ) . Sedangkan untuk sepeda motor sekunder terminal berupa kabel hitam yang besar yang dihubungkan langsung ke busi.

4) Distributor Distributor pada sistem pengapian berfungsi untuk mendistribusikan atau membagi-bagikan tegangan tinggi yang dihasilkan oleh koil ke tiap-tiap busi sesuai dengan urutan penyalaan (firing order). Pada distributor dengan sistem pengapian model konvensional, terdapat beberapa komponen lain misalnya kontak pemutus (platina), cam, vakum advancer, sentrifugal adancer, rotor, dan kondensor. Pada distributor dengan sistem pengapian elektronik, di dalam distributor tidak ada lagi kontak pemutus. Sebagai penggantinya adalah komponen penghasil pulsa (pulse generator) yang terdiri dari rotor, igniter, pick up coil, dan magnet permanen untuk pengapian sistem induktif. Pada sistem pengapian dengan pembangkit pulsa model Hall effect,terdapat bilah rotor, magnet, dan IC Hall. 

5) Busi Busi berfungsi untuk mengubah energi listrik tegangan tinggi dari ignition coil menjadi percikan bunga api pada kedua elektroda. Arups listrik yangmelompat akan membakar campuran bahan bakar dengan udara yang telahdikompresi pada ruang bakar. Busi terdiri dari rumah logam, insulator danelektroda yang dicor pada tengah busi. Rumah logam berfungsi sebagai elektrodanegatif, ulir pada rumah busi berfungsi untuk meningkatkan/mengencangkan busipada kepala silinder. 

6) Igniter Igniter terdiridaribeberapa bagian, yaitu penstabil tegangan (voltage stabilizer), pembentukpulsa (pulse shaper), pengatur sudut dwell(dwell angle control), penguat pulsa (amplifier), dantransistor power. Sebuah detectoryang mendeteksi EMF yang dibangkitkan oleh signal generator, signal amplifierdan power transistoryang melakukan pemutusan arus primer ignition coilpada saat yang tepatsesuai dengan signal yang diperkuat.

 5. Prinsip Kerja Sistem Pengapian Elektronik Sistem pengapian dengan pembangkit pulsa model induktif terdiri dari penghasilpulsa, ignitier, koil, distributor dan komponen pelengkap lainnya. Sistem pembangkit pulsa induktif terdiri dari kumparan pembangkit pulsa (pick up coil), magnet permanen, dan rotor pengarah medan magnet. Carakerjasistem pengapian transistor tipe induksi sebagai berikut:
 a. Pada saat mesin mati Pada saat kunci kontak ON arus mengalir menuju titik P. Besarnya tegangan pada titik ini (yang diatur oleh pembagi tegangan R1dan R2) berada di bawahtegangan basis yang diperlukan untuk mengaktifkan transistor (melalui pick upcoil). Hal ini menyebabkan transistor tidak aktif (OFF) sehingga tidak terjadi aliran arus ke kumparan primer koil.
 b. Pada saat mesin hidup Saat mesin hidup, rotor sinyal berputar (mendekati pick up coil) dan menyebabkan terjadinya tegangan AC pada pick up coil. Bila tegangan yang dihasilkan adalah positif, maka tegangan ini ditambahkan dengan tegangan yang terdapat pada titik P sehingga tegangan di titik Q naik dan besarnya melebihi tegangan basis transistor. Adanya arus basis ini menyebabkan transistor menjadi aktif (ON) sehingga kaki kolektor dan emitornya terhubung yang menyebabkan arus dari baterai mengalir ke kunci kontak, ke kumparan primer koil, ke kaki kolektor, ke emitor, kemudian ke massa. Aliran arus ke kumparan primer koil ini menyebabkan terjadinya medan magnet pada koil. Rotor selalu berputar, sehingga pada saat gigi rotor menjauhipick up coilterjadi tegangan AC dengan polaritasberbeda (negatif). Tegangan ini jika ditambahkan dengan tegangan yang terdapat dalam titik P menjadi tegangan yangbesarnya di bawah tegangan kerja transistor. Akibatnya transistor menjadi tidak aktif (OFF) dan antara kaki kolektor dan emitor transistor menjadi tidak terhubung. Hal ini menyebabkan aliran arus ke kumparan primer koil dengancepat berhenti dan medan magnet pada koil dengan cepat berubah (collapse). Perubahan garis gaya magnet dengan cepat ini menyebabkan terjadinya tegangan induksi pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi ini diteruskan ke distributor dan dibagikan ke tiap-tiap busi sesuai dengan urutan penyalaan (firing order). 
6. Troubleshooting Sistem
 Penyebab Pengapian Elektronik Troubleshooting 
•Mesin tidak dapat hidup/susah hidup 
•Idle kasar atau mati-mati 
•Mesin lemah/akselerasi lemah 
•Bensin boros 
    Kemungkinan pertama sebagai penyebab adalah misfiring. Selanjutnya yang perlu di pertimbangkan adalah saat pengapian
 • Terjadi ledakan terus menerus padamuffler
 • Terjadi ledakan balik pada mesin(backfire)
 •Mesin terlalu panas (over heat) Bagian-bagian yang menunjukkan adanya adalah saat pengapian.

Thursday, May 24, 2018

Macam-Macam Refrigerant


3.5. Refrigerant

3.5.1. Macam-Macam Refrigerant
       Refrigeran merupakan bahan pendingin atau fluida yang digunakan untuk menyerap panas melalui perubahan fase dari cair ke gas (evaporasi) dan membuang panas melalui perubahan fase dari gas ke cair (kondensasi), sehingga refrigeran dapat dikatakan sebagai pemindah panas dalam sistem pendingin. Adapun pengertian lainnya adalah Refrigerasi atau pendinginan merupakan proses pengambilan atau pengeluaran kalor dari suatu materi atau ruangan dan mempertahankan keadaannya sedemikian rupa sehingga temperaturnya lebih rendah dari pada lingkungan sekitarnya. Pada prinsipnya refrigerasi adalah terapan dari mata kuliah Perpindahan Panas dan Thermodinamika, dimana kalor akan mengalir atau berpindah dari suatu keadaan yang mempunyai temperatur tinggi ke suatu keadaan yang bertemperatur rendah.

3.5.1.1. Refrigerant fluorocarbon terhidrogenasi (HFC)
HFC merupakan refrigeran baru sebagai alternatif untuk menggantikan posisi freon. Hal ini disebabkan karena refrigeran freon mengandung zat chlor (Cl) yang dapat merusak lapisan ozon. Sedangkan HFC terdiri dari atom-atom hidrogen, fluorine dan karbon tanpa adanya zat chlor (Cl).
Macam-macam HFC dan pemakaiannya :
·         HFC 125 (CHF2CF3)
Sebagai pengganti freon–115 / R115 untuk pendingin air.
·         HFC 134a (CH3CH2F)
Merupakan alternatif pengganti freon-12 / R-12. tidak mudah meledak dan tingkat kandungan racun rendah, digunakan untuk pengkondisian udara, lemari es dan pendingin air.
·         HFC 152a (CH3CHF2)
Sebagai pengganti freon-12 / R-12 digunakan untuk penyegaran udara, pendingin air.

3.5.1.2. Freon atau Cloro Fluoro Carbon (CFC)
Freon merupakan refrigeran yang paling banyak digunakan dalam sistem pendingin. Bahan dasarnya ethane dan methane yang berisi fluor dan chlor dalam komposisinya. Karena mengandung unsur chlor refrigeran jenis ini mempunyai dampak penipisan ozon dimana akan berpengaruh negatif terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi. Selain itu, juga berdampak negatif terhadap iklim, yaitu meningkatkan suhu rata-rata dan perubahan iklim global serta pencemaran udara. Spesifikasi freon yang biasa digunakan dalam pendinginan :
Nama –Rumus- Kimia- Titik Didih (˚C)
·         Freon – 11 CCl3F 23,8 (˚C)
·         Freon – 12 CCl3F2 – 29,8 (˚C)
·         Freon – 13 CClF3 – 81,4 (˚C)
·         Freon – 21 CHCL2F 8,9 (˚C)
·         Freon – 22 CHClF2 – 40,8 (˚C)

3.5.1.3. Terhidrogenasi klorofluorokarbon refrigeran (HCFC)
Terdiri dari hidrogen, klorin, fluorin, dan karbon. Refrigeran ini mengandung jumlah minimal klorin, yg tidak merusak lingkungan karena berbeda dari refrigeran lain.

3.5.1.4 Carbon Dioksida (CO2)
Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau dan lebih berat dari udara. Titik didihnya -78,5˚C, berat jenisnya 1,56 dan hanya dapat beroperasi pada tekanan tinggi sehingga pemakaiannya terbatas dan biasanya dipakai pada proses refrigerasi dengan tekanan per ton yang besar.

3.5.1.5. Azetropes
Merupakan campuran dari beberapa refrigeran yang mempunyai sifat berbeda. Jenis yang banyak dipakai :
·         Correne-7
Yang terdiri dari campuran 73,8 % freon-12 dan 26,2% genetron 100.
·         Refrigeran-502
Merupakan campuran dari 98,8 % freon-12 dan 51,2 % freon-115

3.5.1.6. Methil Clorida (CH3Cl)
Berupa cairan tidak berwarna dan tidak berbau merangsang. Titik didihnya – 23,7 0F.

3.5.1.7. Uap Air
Refrigeran ini paling murah dan paling aman. Pemakaiannya terbatas untuk pendingin suhu tinggi karena mempunyai titik beku yang tinggi, yaitu 0˚C. pemakaian utamanya untuk comfort air cionditioning dan water cooling.

3.5.1.8. Hidrocarbon
Dipakai pada industri karena harganya murah. Jenisnya butana, iso butana, propana, propylana, etana dan etylana. Semuanya mudah terbakar dan meledak.
Berikut ini macam-macam nama kimia dari hidrokarbon :
Ketentuan penomoran+ Nama kimia Rumus kimia
·         50 Metana CH4
·         170 Etana C2H6
·         290 Propana C3H8

3.5.1.9 Amonia (NH3)
Amonia ini digunakan secara luas pada mesin refrigerasi industri atau refrigerasi kapasitas besar. Titik didihnya kurang lebih – 33˚C. zat ini mempunyai karakteristik bau meskipun pada konsentrasi kecil di udara. Tidak dapat terbakar, tetapi meledak jika bereaksi dengan udara dengan prosentase 13,28 %. Oleh karena itu efek korosi amonia, tembaga atau campuran tembaga tidak boleh digunakan pada mesin dengan refrigeran ammonia

3.5.1.10. Larutan Garam (brine)                                                
Larutan garam (brine) juga digunakan untuk refrigeran misalnya untuk pendinginan lokasi lapangan es (ice skating rinks).


Pengertian dan Manfaat Kopling Mobil


3.1.  Pengertian dan Manfaat Kopling
     Kopling adalah bagian dari sistem pemindah daya (power train) yang berfungsi untuk memutus dan menghubungkan putaran dari mesin ke unit Transmisi. Dengan adanya kopling maka jalan kendaraan akan menjadi lembut dan tidak adanya kejutan mendadak pada kendaraan saat kendaraan pindah gigi perseneling. Kopling adalah bagian sistem pemindah tenaga yang sangat sederhana namun perannya sangat penting dalam sistem pemindah tenaga.
     Tanpa adanya kopling kita bisa membayangkan kendaraan tidak dapat berjalan dengan lembut dan sering terjadi hentakan saat mobil di akselerasi dan memungkinkan cepat rusak / rompalnya gigi transmisi saat memindah perseneling.
3.1.1.      Manfaat Kopling
3.1.1.1.    Memutuskan dan menghubungkan antara tenaga mesin dengan gigi transmisi.
3.1.1.2.    Membuat halus saat pemindahan gigi.
3.1.1.3.    Agar memudahkan gerakan pemindah gigi perseneling pada transmisi.

3.2.  Syarat-Syarat Kopling
3.2.1.      Mampu memutuskan dan menghubungkan putaran mesin ke transmisi dengan lembut.
3.2.2.      Setelah terhubung, kopling dapat memindahkan seluruh daya secara penuh (100%) tanpa slip.
3.2.3.      Waktu terputus dan terhubungnya putaran dapat berlangsung dengan relatif cepat.


3.3. Komponen dan Fungsi


Gambar 3.1 Komponen-Komponen Pada Kopling
3.2.4.      Kopling terdiri dari :
a)        Sistem Mekanisme Penggerak
b)        Release Fork
c)        Release Bearing
d)        Pegas Diafragma (Pegas Coil)
e)        Clutch Cover (Rumah Kopling)
f)         Plat Penekan (Pressure Plate)
g)        Plat Kopling (Clutch Disc)
3.2.5.      Fungsi :
a)        Sistem Mekanisme Penggerak
     Pada kendaraan mobil mekanisme penggerak ini berfungsi untuk menyalurkan gaya dari pedal kopling untuk menggerakkan release fork agar release fork menekan release bearing.
Umumnya mekanisme penggerak yang digunakan adalah mekanisme penggerak yang menggunakan kabel dan menggunakan sistem hidraulis.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0oF5jeffwh-uuV2z50ZIVk2jk0WO8Uv6Yr0QVJ_4-2Aerh6m74tDHwp8UVpVCFZOpvrg6HH7AJOdPybuvol9nHjSLzGJJEF9XbRpD83H5bduwL2nkkzBGnYyyoo2_P_WUnqxOmI1cGkCJ/s320/Mekanisme+penggerak+hidraulis.jpg
Gambar 3.2 Mekanisme Penggerak Dengan Kabel
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling- manual-clutch-system.html
Mekanisme Penggerak Dengan Kabel :
Seperti telah dijelaskan di atas kopling berfungsi untuk memutus dan menghubungkan penyaluran tenaga mesin ke roda penggerak. Untuk mengoperasikan fungsi tersebut, pada kendaraan ada dua macam yaitu sistem mekanik dan sistem hidrolik. Sistem mekanik untuk memindahkan tenaga kaki melalui pedal kopling disalurkan kabel baja ke pengungkit (Throwout lever).

Gambar 3.3 Mekanisme Penggerak Dengan Hidraulis
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling- manual-clutch-system.html
Mekanisme Penggerak Dengan Hidraulis :
Sistem ini untuk menggerakkan release fork digunakan sistem hidraulis, saat pedal kopling di injak piston pada master silinder akan tertekan dan piston ini akan menekan fluida sehingga fluida akan mengalir melalui fleksibel house dan pada bagian bawah terdapat release silinder yang juga berisi sebuah piston, saat aliran fluida sampai pada bagian ini maka piston pada release silinder akan tertekan oleh fluida sehingga piston akan mendorong / menekan release fork.
b)        Release Fork
Release fork memiliki fungsi yaitu menekan release bearing sehingga release bearing akan menekan pegas diafragma / pegas coil.
c)        Release Bearing
Release bearing berfungsi untuk menekan pegas diafragma/pegas coil sehingga plat penekan tidak kembali menekan plat kopling ke flywheel sehingga aliran tenaga / putaran dari mesin melalui flywheel tidak dapat diteruskan ke transmisi.
d)        Clutch Cover (Rumah Kopling)
Ini terikat dengan flywheel sehngga saat flywheel berputar clutch cover juga akan berputar. Clutch cover ini juga harus dapat memindahkan panas dengan maksimal agar tidak terjadi over heating pada komponen kopling.

Gambar 3.4 Konstruksi Clutch Cover (Rumah Kopling)
Sumber : http://junda08.blogspot.co.id
e)        Pegas Diafragma (Pegas Coil)
Menurut saya pegas jenis diaphragm lebih banyak digunakan pada mobil-mobil keluaran baru bahkan untuk truk dengan muatan sedang. Sedangkan tipe pegas coil banyak digunakan pada kendaraan niaga berat.
Tipe ini mempunyai keuntungan :
·      Tenaga penekanan pedal kopling lebih ringan.
·      Penekanan terhadap plat kopling lebih merata.
·      Tenaga pegas tidak akan berkurang karena gaya sentrifugal saat kecepatan tinggi.
Kerugian :
·           Penekanan terhadap plat kopling lebih kecil.

Gambar 3.5 Pegas Diafragma
f)         Plat Penekan (Pressure Plate)
Presure plate berfungsi sebagai bidang gesek pada clucth cover untuk menghimpit disc clutch dengan flywheel. Presure plate diatur kerjanya oleh diafragma spring, presure plate berotasi bersamaan dengan clucth cover.

Gambar 3.6 Konstruksi Pressure Plate
g)        Plat Kopling (Clutch Disc)

Gambar 3.7 Plat Kopling
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
Plat kopling perannya sangat vital dalam sistem kopling. Plat kopling ini berfungsi untuk menghubungkan putaran mesin dari flywheel ke unit transmisi saat plat kopling ini tertekan oleh plat penekan dan berfungsi memutuskan aliran tenaga saat plat penekan tidak kembali menekan plat kopling. Dalam plat kopling terdapat clutch hub yang akan dihubungkan dengan input shaft transmisi.
               Disc Plate                      Rivet (Paku Keling)

Cushion               Facing
Gambar 3.8 Penampang Plat Kopling Dari Samping

3.4. Cara Kerja Kopling
     Cara kerja kopling adalah apabila mesin berputar, dengan sendirinya roda gila ikut berputar, sedangkan pada roda gaya ini dipasangkan tutup kopling yang tentunya juga ikut berputar. Dalam hal ini poros roda gigi atau poros utama persneling belum dapat berputar, demikian juga dengna plat kopling yang dipasang dengan perantaraan suatu alur pada poros tersebut yang memungkinkannya bergerak sepanjang poros persneling. Selanjutnya, apabila kita ingin menggerakkan roda, hal ini dapat dilakukan dengna mengoperasikan pedal, dimana pada waktu pedal di angkat pegas-pegas kopling akan menekan plat tekan pada roda gila. Hal ini yang menyebabkan plat kopling tersebut terjepit diantara roda gila dengna plat tekan. Plat ini mulanya akan slip, dan bergesekan dengan roda gila maupun plat tekan akan tetapi selanjutnya secara bertahap akan ikut terbawa berputar dan selanjutnya akan memutar poros utama persneling.

Gambar 3.9 Cara Kerja Kopling
        Sumber : http://junda08.blogspot.co.id

3.5. Prosedur Pembongkaran dan Pemasangan Plat Kopling Hyundai Getz
3.5.1. Pembongkaran
3.5.1.1.    Lepas bagian - bagian yang menghalangi untuk membongkar kopling .
3.5.1.2.    Lepaskan kabel yang menempel pada tranmissi dan lepas As roda ,Steering linkage yang menempel pada roda,Stabilizer- bar.
3.5.1.3.    Apabila plat koplingnya ada didepan harus membuka rem cakram yang sebelah kiri.
3.5.1.4.    Buka baud yang mempel pada tranmisi.
3.5.1.5.    Setelah terbuka pisahkan tranmissi dan kopling.
3.5.1.6.    Periksa cluth dish dan cluth cover apakah layak atau tidak untuk di pakai.
3.5.1.7.    Apabila plat kopling dan cluth cover sudah aus .di wajibkan harus diganti.
3.5.1.8.    Bersihkan bagian kopling yang kotor dengan menggunakan kuas.
3.5.2.   Pemasangan
3.5.2.1.    Pasang plat kopling dan cluth cover dengan lurus menggunakan senter kopling.
3.5.2.2.    Apabila sudah lurus kencangkan dengan baut menggunakan kunci yang pas.
3.5.2.3.    Pasang tranmissi kembali dengan rapih apabila sudah bersih dari debu.
3.5.2.4.    Pasang kembali komponen - komponen yang di lepas dengan rapih,  seperti kabel yang menempel di tranmissi, ss roda ,stabilizer bar dan lain sebagainya.
3.5.2.5.    Pasang roda / ban dengan menggunkan kunci roda.

3.6. Pemeriksaan Unit Komponen
3.6.1.   Pemeriksaan Unit Pegas  Diafragma :

Gambar 3.10 Pemeriksaan Unit Pegas Diafragma
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
     Pemeriksaan unit diafragma adalah meliputi kedalaman diafragma dan lebar bekas gesekan release bearing. Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat ukur jangka sorong. Ukur kedalaman pegas diafragma dengan limit (batas maksimum yang harus diganti) 0,6 mm dan ukur lebar bekas gesekan release bearing pada masing-masing pegas diafragma dengan batas maksimal 5 mm. Jika sudah melebihi ganti dengan komponen yang baru sesuai dengan manual book.

3.6.2.   Pengukuran keausan kerataan plat penekan

Gambar 3.11 Pengukuran Keausan Kerataan Plat Penekan
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
     Untuk mengukur run out / kerataan plat penekan dibutuhkan alat yaitu mistar baja dan fuller gauge ukur kerataan sesuai dengan gambar di atas, masukkan fuller gauge di sela-sela mistar baja dan plat penekan dengan batas keausan maksimum adalah 0,5 mm. Jika telah melewati batas maksimum ratakan dengan mesin bubut atau mengganti suku cadangnya sesuai manual book. Hal yang diakibatkan apabila plat penekan aus adalah tekanan ke plat kopling menjadi berkurang dan bisa mengakibatkan plat kopling cepat aus.



3.6.3.   Pemeriksaan Ketebalan Plat Kopling


           Gambar 3.12 Pemeriksaan Ketebalan Plat Kopling
                   kopling-manual clutch-system.html
     Pengukuran ketebalan plat kopling dilakukan seperti gambar di atas dengan menggunakan jangka sorong, pengukuran dilakukan berdasarkan kedalaman plat kopling terhadap paku keeling (rivet). Batas maksimum yang diperbolehkan adalah 0,3 mm. Jika telah melampaui batas maksimum gantilah plat kopling dengan yang baru.





3.6.4.   Pemeriksaan Kerataan Flywheel

      Gambar 3.13 Pemeriksaan Kerataan Flywheel
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem- kopling-manual clutch-system.html
     Pemeriksaan bisa dilakukan dengan dial gauge bila ada bila tidak ada bisa menggunakan cara seperti mengukur kerataan plat penekan dengan batas maksimum 0,2 mm.