3.1. Pengertian
dan Manfaat Kopling
Kopling adalah bagian dari sistem pemindah
daya (power train) yang berfungsi
untuk memutus dan menghubungkan putaran dari mesin ke unit Transmisi. Dengan
adanya kopling maka jalan kendaraan akan menjadi lembut dan tidak adanya
kejutan mendadak pada kendaraan saat kendaraan pindah gigi perseneling. Kopling
adalah bagian sistem pemindah tenaga yang sangat sederhana namun perannya
sangat penting dalam sistem pemindah tenaga.
Tanpa
adanya kopling kita bisa membayangkan kendaraan tidak dapat berjalan dengan
lembut dan sering terjadi hentakan saat mobil di akselerasi dan memungkinkan
cepat rusak / rompalnya gigi transmisi saat memindah perseneling.
3.1.1.
Manfaat Kopling
3.1.1.1. Memutuskan dan
menghubungkan antara tenaga mesin dengan gigi transmisi.
3.1.1.2. Membuat halus saat
pemindahan gigi.
3.1.1.3. Agar memudahkan
gerakan pemindah gigi perseneling pada transmisi.
3.2. Syarat-Syarat Kopling
3.2.1. Mampu memutuskan dan
menghubungkan putaran mesin ke transmisi dengan lembut.
3.2.2. Setelah terhubung,
kopling dapat memindahkan seluruh daya secara penuh (100%) tanpa slip.
3.2.3. Waktu terputus dan
terhubungnya putaran dapat berlangsung dengan relatif cepat.
3.3. Komponen dan Fungsi
Gambar 3.1 Komponen-Komponen Pada Kopling
3.2.4. Kopling terdiri dari :
a)
Sistem Mekanisme Penggerak
b)
Release Fork
c)
Release Bearing
d)
Pegas Diafragma (Pegas
Coil)
e)
Clutch Cover (Rumah Kopling)
f)
Plat Penekan (Pressure
Plate)
g)
Plat Kopling (Clutch
Disc)
3.2.5.
Fungsi :
a)
Sistem Mekanisme Penggerak
Pada kendaraan mobil mekanisme penggerak
ini berfungsi untuk menyalurkan gaya dari pedal kopling untuk menggerakkan
release fork agar release fork menekan release bearing.
Umumnya mekanisme
penggerak yang digunakan adalah mekanisme penggerak yang menggunakan kabel dan
menggunakan sistem hidraulis.

Gambar 3.2 Mekanisme Penggerak Dengan Kabel
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling- manual-clutch-system.html
Mekanisme Penggerak
Dengan Kabel :
Seperti telah
dijelaskan di atas kopling berfungsi untuk memutus dan menghubungkan penyaluran
tenaga mesin ke roda penggerak. Untuk mengoperasikan fungsi tersebut, pada
kendaraan ada dua macam yaitu sistem mekanik dan sistem hidrolik. Sistem
mekanik untuk memindahkan tenaga kaki melalui pedal kopling disalurkan kabel
baja ke pengungkit (Throwout lever).
Gambar 3.3 Mekanisme Penggerak Dengan Hidraulis
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-
manual-clutch-system.html
Mekanisme Penggerak
Dengan Hidraulis :
Sistem ini untuk
menggerakkan release fork digunakan sistem hidraulis, saat pedal kopling di
injak piston pada master silinder akan tertekan dan piston ini akan menekan
fluida sehingga fluida akan mengalir melalui fleksibel house dan pada bagian
bawah terdapat release silinder yang juga berisi sebuah piston, saat aliran
fluida sampai pada bagian ini maka piston pada release silinder akan tertekan
oleh fluida sehingga piston akan mendorong / menekan release fork.
b)
Release Fork
Release fork memiliki fungsi yaitu menekan release bearing
sehingga release bearing akan menekan pegas diafragma / pegas coil.
c)
Release Bearing
Release
bearing berfungsi untuk menekan pegas diafragma/pegas coil
sehingga plat penekan tidak kembali menekan plat kopling ke flywheel sehingga aliran tenaga /
putaran dari mesin melalui flywheel
tidak dapat diteruskan ke transmisi.
d)
Clutch Cover (Rumah Kopling)
Ini terikat dengan flywheel sehngga saat flywheel berputar
clutch cover juga akan berputar. Clutch cover ini juga harus dapat memindahkan
panas dengan maksimal agar tidak terjadi over
heating pada komponen kopling.
Gambar 3.4 Konstruksi Clutch Cover (Rumah Kopling)
Sumber : http://junda08.blogspot.co.id
e)
Pegas Diafragma (Pegas
Coil)
Menurut
saya pegas jenis diaphragm lebih banyak digunakan pada mobil-mobil keluaran
baru bahkan untuk truk dengan muatan sedang. Sedangkan tipe pegas coil banyak
digunakan pada kendaraan niaga berat.
Tipe ini mempunyai
keuntungan :
·
Tenaga penekanan pedal kopling lebih ringan.
·
Penekanan terhadap plat kopling lebih merata.
·
Tenaga pegas tidak akan berkurang karena gaya
sentrifugal saat kecepatan tinggi.
Kerugian :
·
Penekanan terhadap plat kopling lebih kecil.
Gambar 3.5 Pegas Diafragma
f)
Plat Penekan (Pressure
Plate)
Presure plate berfungsi sebagai
bidang gesek pada clucth cover untuk menghimpit disc clutch dengan flywheel.
Presure plate diatur kerjanya oleh diafragma spring, presure plate berotasi
bersamaan dengan clucth cover.
Gambar 3.6 Konstruksi Pressure Plate
g)
Plat Kopling (Clutch
Disc)
Gambar 3.7 Plat Kopling
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
Plat kopling perannya
sangat vital dalam sistem kopling. Plat kopling ini berfungsi untuk
menghubungkan putaran mesin dari flywheel ke unit transmisi saat plat kopling
ini tertekan oleh plat penekan dan berfungsi memutuskan aliran tenaga saat plat
penekan tidak kembali menekan plat kopling. Dalam plat kopling terdapat clutch
hub yang akan dihubungkan dengan input shaft transmisi.
Disc
Plate
Rivet (Paku Keling)
Cushion
Facing
Gambar 3.8 Penampang Plat Kopling Dari Samping
3.4. Cara Kerja Kopling
Cara kerja kopling adalah
apabila mesin berputar, dengan sendirinya roda gila ikut berputar, sedangkan
pada roda gaya ini dipasangkan tutup kopling yang tentunya juga ikut berputar.
Dalam hal ini poros roda gigi atau poros utama persneling belum dapat berputar,
demikian juga dengna plat kopling yang dipasang dengan perantaraan suatu alur
pada poros tersebut yang memungkinkannya bergerak sepanjang poros persneling.
Selanjutnya, apabila kita ingin menggerakkan roda, hal ini dapat dilakukan
dengna mengoperasikan pedal, dimana pada waktu pedal di angkat pegas-pegas
kopling akan menekan plat tekan pada roda gila. Hal ini yang menyebabkan plat
kopling tersebut terjepit diantara roda gila dengna plat tekan. Plat ini
mulanya akan slip, dan bergesekan dengan roda gila maupun plat tekan akan
tetapi selanjutnya secara bertahap akan ikut terbawa berputar dan selanjutnya
akan memutar poros utama persneling.
Gambar 3.9 Cara Kerja Kopling
Sumber : http://junda08.blogspot.co.id
3.5. Prosedur Pembongkaran dan Pemasangan Plat
Kopling Hyundai Getz
3.5.1. Pembongkaran
3.5.1.1.
Lepas bagian - bagian yang menghalangi untuk
membongkar kopling .
3.5.1.2.
Lepaskan kabel yang menempel pada tranmissi dan lepas
As roda ,Steering linkage yang menempel pada roda,Stabilizer- bar.
3.5.1.3.
Apabila plat koplingnya ada didepan harus membuka rem
cakram yang sebelah kiri.
3.5.1.4.
Buka baud yang mempel pada tranmisi.
3.5.1.5.
Setelah terbuka pisahkan tranmissi dan kopling.
3.5.1.6.
Periksa cluth dish dan cluth cover apakah layak atau
tidak untuk di pakai.
3.5.1.7.
Apabila plat kopling dan cluth cover sudah aus .di
wajibkan harus diganti.
3.5.1.8.
Bersihkan bagian kopling yang kotor dengan menggunakan
kuas.
3.5.2. Pemasangan
3.5.2.1.
Pasang plat kopling dan cluth cover dengan lurus
menggunakan senter kopling.
3.5.2.2.
Apabila sudah lurus kencangkan dengan baut menggunakan
kunci yang pas.
3.5.2.3.
Pasang tranmissi kembali dengan rapih apabila sudah
bersih dari debu.
3.5.2.4.
Pasang kembali komponen - komponen yang di lepas
dengan rapih, seperti kabel yang
menempel di tranmissi, ss roda ,stabilizer
bar dan lain sebagainya.
3.5.2.5.
Pasang roda / ban dengan menggunkan kunci roda.
3.6. Pemeriksaan Unit Komponen
3.6.1. Pemeriksaan Unit Pegas
Diafragma :
Gambar 3.10 Pemeriksaan Unit Pegas Diafragma
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
Pemeriksaan unit diafragma adalah
meliputi kedalaman diafragma dan lebar bekas gesekan release bearing.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat ukur jangka sorong. Ukur kedalaman pegas
diafragma dengan limit (batas maksimum yang harus diganti) 0,6 mm dan ukur
lebar bekas gesekan release bearing pada masing-masing pegas diafragma dengan
batas maksimal 5 mm. Jika sudah melebihi ganti dengan komponen yang baru sesuai
dengan manual book.
3.6.2. Pengukuran keausan kerataan plat penekan
Gambar 3.11 Pengukuran Keausan Kerataan Plat Penekan
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem-kopling-manual clutch-system.html
Untuk
mengukur run out / kerataan plat penekan dibutuhkan alat yaitu mistar baja dan
fuller gauge ukur kerataan sesuai dengan gambar di atas, masukkan fuller gauge
di sela-sela mistar baja dan plat penekan dengan batas keausan maksimum adalah
0,5 mm. Jika telah melewati batas maksimum ratakan dengan mesin bubut atau
mengganti suku cadangnya sesuai manual book. Hal yang diakibatkan apabila plat
penekan aus adalah tekanan ke plat kopling menjadi berkurang dan bisa
mengakibatkan plat kopling cepat aus.
3.6.3. Pemeriksaan
Ketebalan Plat Kopling
Gambar 3.12 Pemeriksaan Ketebalan Plat
Kopling
kopling-manual clutch-system.html
Pengukuran ketebalan plat kopling
dilakukan seperti gambar di atas dengan menggunakan jangka sorong, pengukuran
dilakukan berdasarkan kedalaman plat kopling terhadap paku keeling (rivet).
Batas maksimum yang diperbolehkan adalah 0,3 mm. Jika telah melampaui batas
maksimum gantilah plat kopling dengan yang baru.
3.6.4. Pemeriksaan
Kerataan Flywheel
Gambar 3.13 Pemeriksaan Kerataan Flywheel
Sumber : http://tkrwonoasri.blogspot.co.id/2013/12/sistem- kopling-manual clutch-system.html
Pemeriksaan
bisa dilakukan dengan dial gauge bila ada bila tidak ada bisa menggunakan cara
seperti mengukur kerataan plat penekan dengan batas maksimum 0,2 mm.












